Penyidik Unit Tipidkor Sat Reskrim Polresta Banda Aceh kembali menyita barang bukti tambahan berupa uang sebesar Rp295. 835.255 dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan wewenang penerimaan dana ganti rugi pengadaan tanah untuk lahan Zikir Nurul Arafah Islamic Center di Desa Ulee Lheu, Banda Aceh.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Fahmi Irwan Ramli melalui Kasatreskrim Kompol Fadillah mengatakan, penyitaan uang tersebut terkait tindak pidana korupsi penyalahgunaan wewenang penerimaan dana ganti rugi dari pengadaan tanah untuk lahan Zikir Nurul Arafah Islamic Center yang bersumber dari APBK pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Banda Aceh tahun 2018 dan tahun 2019. “Penyitaan ini dilakukan oleh Unit Tipidkor Sat Reskrim Polresta Banda Aceh sebagai salah satu rangkaian penyidikan,” ucap Fadillah didampingi Kanit Tipikor Ipda Zainur Fauzi, Selasa (11/7/2023).

Fadillah menjelaskan, berdasarkan hasil keterangan tersangka DA dan SH serta keterangan saksi-saksi, saksi ahli, dan dokumen sehingga penyidik pembantu telah melakukan penyitaan barang bukti sejumlah uang tunai dengan total sebesar Rp295.835.255 — yang di peroleh dari SH sebesar Rp142.809.932 dan dari RR (82) — pihak Mukim Meuraxa sebesar Rp153.025.323. Kini, pihak Unit Tipikor Satreskrim Polresta Banda Aceh sedang menyelidiki aliran dana ganti rugi yang masuk ke rekening pribadi DA sebesar Rp223.531.120 — yang menurut pengakuan tersangka dipergunakan sebagai biaya hidup atau kepentingan pribadi.

“Dana yang masuk ke rekening pribadi DA sangat besar, berkisar Rp223.531.120. Dan menurutnya, uang tersebut dipergunakan untuk keperluan pribadinya, dimana tim sedang mendalami terkait pembenaran penggunaanya,” ujar Fadillah. Perlu diketahui, uang sitaan tersebut merupakan bagian dari kerugian Keuangan Negara sebesar Rp.1.008.057.357 dalam kasus pengadaan lahan zikir tersebut.

Berdasarkan keterangan para saksi, kata Fadillah, masih ada sejumlah uang yang saat ini berada pada beberapa gampong di wilayah Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh yang belum melakukan pengembalian, dimana setiap gampong menerima Rp46.664.600. Fadillah meminta kepada pihak aparatur gampong yang masih menyimpan dana tersebut, agar segera menyerahkan kepada penyidik guna dilakukan proses lebih lanjut.

“Selain uang, kita juga telah melakukan penyitaan terhadap empat persil tanah yang terletak diantaranya tiga persil di Gampong Lamjabat, Meuraxa, Banda Aceh, dan satu persil lagi di Gampong Ulee Lheue dengan luas tanah keseluruhannya 4.256 M2,” kata Fadillah. Untuk empat persil tanah yang disita, sambungnya, sudah memiliki dua Sertifikat Hak Milik (SHM) dan empat Akta Jual Beli (AJB), sedangkan uang hasil sitaan tersebut akan dititipkan ke Bank BSI melalui rekening Sat Tahti (Tahanan dan Barang Bukti) Polresta Banda Aceh.

 

sumber: acehtrend.com